Sabtu, 02 Januari 2010

Perkembangan atau Kesenjangan Yang Ada Pada Teknologi Komunikasi di Indonesia

1. Bagaimana sejarah singkat perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia?

Perkembangan Ilmu dan Teknologi (iptek) di Indonesia sangat tertingggal. dari 150 negara, Indonesia hanya ada di posisi ke-110. Sedangkan dari achievment technology, Indonesia menduduki nomor 61 dari 64 negara. “Itu menandakan ada persoalan besar yang harus segera ditangani. Persoalan besar yang harus diperhatikan itu antara lain kurangnya inovasi dan buah karya atau produk dari iptek.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang pesat, sesungguhnya telah mendorong peran informasi menjadi sangat signifikan dalam segala aspek kehidupan manusia, dan dalam persaingan global, pihak yang mampu mengakses dan memanfaatkan informasi secara optimal akan memiliki keunggulan yang lebih dibandingkan pihak-pihak lain yang jauh dari informasi.

Dalam kondisi tertentu, perkembangan TIK memerlukan pengamanan dan perlindungan kerahasiaan informasi dan privasi pihak-pihak yang berkomunikasi, untuk mencegah pihak yang tidak berkepentingan mengetahui isi informasi. Kebocoran informasi rahasia merupakan ancaman terhadap stabilitas dan ketahanan nasional, bahkan kedaulatan negara. Selain itu, di tangan pihak-pihak tertentu, kerahasiaan dan informasi dapat disalahgunakan untuk tindak kejahatan.

Untuk itu, jaminan keamanan penyampaian informasi melalui media TIK menjadi sangat penting, karena menyangkut kepercayaan publik, baik nasional maupun international. Ketidakmampuan mengamankan informasi tidak hanya dapat menurunkan kredibilitas Indonesia di dunia International, tetapi juga dapat menyebabkan kerugian pada semua pihak, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah, sebagai pengguna media TIK untuk menyampaikan informasinya.

Dengan menyadari sepenuhnya bahwa kewaspadaan terhadap perlunya menjaga keamanan dan kerahasiaan informasi merupakan salah satu pilar stabilitas dan ketahanan politik, ekonomi dan sosial bangsa, maka dengan ini dibentuklah Masyarakat Sandi dan Keamanan Informasi Indonesia, dengan landasan jiwa yang luhur dan profesionalisme untuk berperan aktif dan inovatif dalam usaha pemanfaatan dan pengamanan informasi demi kepentingan nasional dan kemanusiaan.

Masyarakat Sandi dan Keamanan Informasi Indonesia bertekad untuk senantiasa memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang persandian, keamanan dan pengamanan informasi serta bidang-bidang terkait lainnya, ikut serta memasyarakatkan pemanfaatannya dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan tentang keamanan dan pengamanan informasi.

Ada aspek kultur yang kental di Indonesia dalam penerapan informasi dan teknologinya, contohnya Friendster sangat digemari oleh orang Indonesia, sementara itu orang Amerika lebih menggemari myspace dan orang Brazil lebih menggemari Orkut.

Kami rasa popularitas sebuah portal pertemanan seperti Friendster atau MySpace berhubungan erat dengan historisitasnya. Komunitas apa yang pertama kali menggunakannya maka dari situlah terbangun popularitas.

Friendster di Indonesia sangat digemari karena para siswa dan mahasiswa yang pertama menggunakannya. Kemudian mahasiswa setelah tamat akan terus membawa kebiasaan Friendsternya ke kantor maka sekarang komunitas kantoranpun banyak yang pakai Friendster sampai sampai kebanyakan sysad diperkantoran Sudirman dan Kuningan diminta untuk memblok situs Friendster ini karena karyawannya sibuk ber Friendster pada jam kerja.

Kemudian MySpace di Amrik bisa ngetop pertama kali karena digunakan oleh kalangan penikmat musik, kita tahu masyarakat musik di Amrik sudah lebih digital daripada di Indonesia. Masih ingat waktu Janet Jackson pertama kali merilis singlenya di MySpace kemudian masyarakat musik Amrik makin menggilai MySpace.

Lantas masih tersisa pertanyaan kenapa pertama kali para siswa di Indonesia menggemari Friendster dan para musisi di US menggemari MySpace. Yah mungkin saja karena fiturnya. Di MySpace ada fitur untuk musisi upload musik mereka dan masyarakat musik Amrik sudah lebih melek IT daripada masyarakat musik Indonesia.

Menurut kami, Friendster digemari para siswa karena selain fitur yang bisa untuk cari teman juga peran media. Kasus pembunuhan mahasiswi yang punya account di Friendster beberapa tahun yang lalu membuat Friendster semakin popular.


2. Untuk infrastruktur Internet di Indonesia, bagaimana menurut Anda kualitas layanan dan harganya?

Perkembangan teknologi yang disebut internet, telah mengubah pola interaksi masyarakat, yaitu; interaksi bisnis, ekonomi, sosial, dan budaya. Internet telah memberikan kontribusi yang demikian besar bagi masyarakat, perusahaan / industri maupun pemerintah. Hadirnya Internet telah menunjang efektifitas dan efisiensi operasional perusahaan, terutama peranannya sebagai sarana komunikasi, publikasi, serta sarana untuk mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan oleh sebuah badan usaha dan bentuk badan usaha atau lembaga lainya. Tingkat pertumbuhan pengguna internet juga menunjukan angka yang sangat fantastik, bahkan internet telah menjadi bagian kebutuhan dalam sebuah rumah tangga. Fenomena ini menunjukan bahwa 5 sampai 10 tahun yang akan datang teknologi informasi akan menguasai sebagian besar pola kehidupan masyarakat, badan usaha maupun pemerintah.

Secara keseluruhan memang masih dapat dikatakan bahwa internet relatif baru dikenal oleh masyarakat Indonesia dan frekuensi pemakainyapun belum terlalu banyak. Namun perkembangan internet di Indonesia telah menunjukan perkembangan yang signifikan. Namun, di bandung dengan negara-negara asia yang lebih maju, seperti Singapura, Taiwan dan hongkong, Indonesia masih ketinggalan jauh. Indikasi yang kuat adalah masih terbatasnya jumlah pelanggan internet yang baru berkisar 1.680.000 pelanggan sampai dengan tahun 2001 (APJII) atau tidak lebih 5 persen dari total jumlah rumah tangga di perkotaan. Dibandingkan dengan negara-negara Asia yang tersebut di atas, yang lebih matang pasar internetnya seperti Singapore yang telah memiliki pelanggan sebanyak 47,4 persen dari jumlah rumah tangga maka kondisi pasar internet di Indonesia masih ketinggalan jauh. Sedangkan sebagai pembanding yang lainnya adalah di Taiwan dan Hongkong yang masing-masing 40 persen dan 26,7 persen dari jumlah rumah tangga (Newsbyte, 2001). Contoh lainnya adalah di China yang berpenduduk lebih dari satu milyar telah memiliki tidak kurang dari 24 juta pemakai internet dengan tingkat penetrasi mencapai 7 persen terhadap penduduk di atas usia 5 tahun (Iamasia, 2001). Ditinjau dari gambaran statistik di atas maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masyarakat pengguna internet di Indonesia masih baru taraf pengenalan atau masih merupakan pasar yang baru muncul (mulai).

Walaupun Indonesia masih dalam tahap awal perkembangan pasar internet, namun peningkatan jumlah pelanggan internet yang ada saat ini menunjukan bahwa peluang pasar internet di Indonesia cukup besar. Memang pada tahun 2001 terjadi kelesuan, namun itu bersifat sementara karena efek dari krisis global yang sedang di alami, disamping pengaruh tragedy penghancuran Gedung WTC sebagai simbul pusat perekonomian dunia. Efek dan pengarih global ini bisa dilihat dengan penurunan jumlah registran untuk domain id yang mencapai 17,9 % dari jumlah registran pada tahun 2000, yaitu dari angka 4.264 registran turun menjadi 3.501 registran. Namun penurunan permintaan domain id tersebut tidak serta merta berbanding lurus dengan pengingkatan jumlah pelanggan internet, karena justru pada tahun 2001 persentasi jumlah pelanggan internet menunjukan kenaikan angka yang sangat tinggi, yaitu 121%, dari 760.000 pelanggan meningkat menjadi 1.680.000 pelanggan.

Perkembangan tersebut juga telah menumbuhkan peningkatan jumlah perusahaan penyedia jasa layanan internet / ISP (Internet Service Provider), yang pada akhir tahun 2001 ini telah mencapai 68 ISP. Hal ini menunjukan bahwa peluang pasar yang dilahirkan dari internet cukup besar. Pada tahun 2001 memang secara global terjadi penurunan khususnya di bisnis cyberspace ini, namun hal itu merupakan seleksi alam dimana ternyata justru peningkatan layanan customer semakin meningkat, dan menunjukan juga bahwa pemain bisnis yang tetap survive adalah para pemain yang serius akan model bisnis yang dikembangkannya (berita detik).

Namun, disamping kondisi yang postitif di atas, pada pertengahan kwartal pertama tahun 2002, terjadi fenomena menarik, karena sebuah jaringn ISP terluas yaitu WasantaraNet telah menutup sebagian kantor cabangnya. Kemudian berikutnya, disusul ISP yang memiliki jaringan luas juga, yaitu MegaNet mengumumkan bahwa perusahaannya telah menutup semua kantor operasionalnya. Kondisi ini jelas kurang menguntungkan bagi perkembangan akses informasi oleh masyarakat.

Ada beberapa hal yang menyebabkan tidak beroperasinya kembali sebagian kantor cabang ISP tersebut, dianataranya, karena alasan cost perasionalnya yang terlalu tinggi, yang tidak bisa dipenuhi oleh pendapatanya. Namun pada perkembangan terakhir disebutkan bahwa alasan utamanya adalah karena persaingan tidak sehat yang dilakukan oleh TELKOM, dengan TelkomNet Instantnya.

Dari semua kondisi di atas, yang utama bagi user internet Indonesia adalah akses yang murah dan cepat, sehingga mereka bisa menikmati perkembangan teknologi informasi, terutama user internet di tingkat masyarakat daerah. Semua itu akan terwujud jika pengambil kebijkan di bidang ini bisa memiliki pandangan yang seimbang, baik dari segi user internet (masyarakat), maupun dari segi perusahaan penyedia jasa layanan internet dan teknologi informasi.


3. Apakah yang disebut dengan ‘kesenjangan digital’ ? Mengapa terjadi ? Bagaimana kondisinya di Indonesia ? Bagaimana solusinya menurut Anda?

Teknologi komputer, telekomunikasi diperkirakan dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Namun peningkatan kualitas ini baru dapat dimanfaatkan oleh sebagian orang saja, ada “jarak/kesenjangan” yang timbul antara mereka yang memiliki kemampuan (skill) komputer & akses kepada teknologi dan yang tidak memiliki (The “have” & the “have not”).

Jadi apakah yang disebut dengan kesenjangan digital atau digital divide ini ?

Masalah kesenjangan digital bukan terbatas pada teknologi, tapi juga melibatkan masalah sosial, demokrasi, ekonomi dan budaya. Hal tersebut dikemukakan oleh Ilham Habibie dari The Habibie Center di sela acara “Investor Group Against Digital Divide” di Jakarta, Kamis (3/5). Menurut Craig Smith, pakar teknologi dari University of Washington, kesenjangan digital adalah gap antara mereka yang dapat meraih keuntungan dari teknologi dan yang tidak.

Padahal kemampuan mengakses informasi merupakan hal yang penting pada saat ini, era “information age”

Without well educated workers, nations cannot thrive in a globalized, knowledge-based economy In many developing countries access to quality education in general and technology training in general is restricted to minority of the population In the years ahead, technical skills will be required for competitiveness not only in high tech industries, but in more traditional ones as well Only with mass access to education and technical training can developing countries take full advantage of the possibilities presented by the distributed information revolution.”

Sumber : From the Global Digital Divide to the Global Opportunity: Proposal Submitted to the G-8 Kyushu-Okinawa Summit 2000

Mengapa digital divide atau kesenjangan digital ini bisa terjadi di Indonesia ? Sumber permasalahannya antara lain :

1) Kesulitan akses (infrastruktur listrik, telekomunikasi, perangkat)

2) Kekurangan skill (SDM, komunitas)

3) Kekurangan isi / materi (content)

4) Kurangnya (tidak adanya) insentif dari pemerintah

Kondisi kesenjangan digital ini di Indonesia sekarang juga mempengaruhi kehidupan sosial, pendidikan dan kebijaksanaan politik, baik pengaruh kearah positif maupun negatif seperti:

· Akses Internet hanya terbatas di kota besar (khususnya pulau Jawa) dan keluarga di atas rata-rata. Tanpa akses, lainnya menjadi tidak penting. Kondisi ini tercermin pada :

a. Program mendatangkan PC bekas: gagal!

b. Di sekolah-sekolah kurangnya sosialisasi akses internet.

· Meningkatkan skill & komunitas.

a. Meningkatkan kemampuan bahasa Inggris karena materi di Internet hampir semuanya dalam bahasa Inggris.

b. Bandung High Tech Valley (BHTV), clustering teknologi di seputar Bandung

c. SMK-TI: tenaga terampil di bidang Teknologi Informasi pada level SMK, termasuk gurunya

· Dilihat dari sisi materi di Internet sebagian besar dalam Bahasa Inggris.

a. Materi dalam bahasa Indonesia hanya berbentuk berita dan

hiburan (entertainment).

b. Masih kurangnya web site dalam bahasa Indonesia yang bermuatan pendidikan.

c. Kemalasan menulis/dokumentasi. Kultur Indonesia?

· Dilihat dari sisi Pemerintah, agar semua pihak ikut berpartisipasi

§ Belum ada insentif yang nyata bagi pihak yang mencoba menjembatani kesenjangan digital ini.


Jadi bagaimana solusinya?

Secara menyeluruh, perlu adanya pendekatan yang mencakup aspek ekonomi dan sosial, perlunya batasan yang jelas atau ukuran atau indikator untuk mengukur gap dan perlunya kesadaran dan usaha untuk memajukan, misalnya :

v Dari sisi akses, perlu dipikirkan bagaimana cara mengakses yang lebih murah. Biaya telepon naik terus dan jumlah telepon tidak bertambah dengan cepat, bagaimana dengan menggunakan sistem wireless untuk menjembatani kurangnya fixed phones?

v Dari sisi skill & SDM. Perlu adanya program training untuk guru-guru dan community leaders, skill dan SDM yang ahli sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa yang tentu saja sadar akan pendidikan merupakan sebuah prioritas / kebutuhan primer.

v Dari sisi materi (content). Perlu digiatkannya usaha untuk membuat materi pendidikan yang tersedia online, perbanyak materi dalam bahasa Indonesia juga online learning, materi pembelajaran tersedia secara online.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar